Sabtu, 03 Juni 2017

Please..Sorry..Thank



Kejadiannya memang sudah lama, tapi masih ingin berbagi dengan sesama...bukan membuka aib sesuatu..tapi hanya ingin memberi tahu..

Pagi itu ketika pergi ke sekolah, seperti biasa aku akan berhenti di persimpangan lampu merah SP.IV  untuk menunggu teman agar pergi ke sekolahnya bersamaan. Walaupun bukan halte tapi toko2 yang berjejer di sepanjang jalan ini sudah menjadi tempat orang sekolahan ,kantoran dan masyarakat umum untuk menunggu mobil angkutan, tak terkecuali hari itu. Ada ibu2 kantoran,guru, anak sekolahan dan ibu-ibu dari dinas kebersihan jalan raya yang terlihat sedang beristirahat setelah melakukan tugas mulia di pagi hari.

Udah lebih 15 menit aku menunggu tapi temanku belum sampai juga, kuputuskan untuk menelponnya. “lagi di jalan” jawabnya cepat dan langsung memutuskan percakapan kami. Ketika aku baru meletakkan hp dikantong datang seorang anak lelaki menghampiriku, masih teringat jelas sosoknya, pakai celana kain hitam, jaket gelap dan tas ransel, kira-kira umurnya 14 tahunan, anak tingkat SMP.

Ka..bisa pnjam hp?katanya ragu
tuk apa? aku menanyakannya penuh selidik.
“mau sms orang di rumah kak, suruh jemput, saya baru pulang dari pasantren dia menjelaskan.
“pasantren mana?” tanyaku dan dia menyebutkan nama pasantren yang cukup terkenal di kabupaten sebelah. 

Aku berfikir sejenak, jadi teringat adik bungsuku yang sama nasibnya seperti ini. Ketika jadwal liburan, adikku di terminal bus selalu menggunakan nomor asing untuk menelpon. Awalnya curiga juga tapi  jadi terfikir “kasian kalau nanti  adik bungsuku yang kejadiannya kayak gini tapi tak ada yang menolong”

 “gak usah sms, telpon aja biar cepat aku memutuskan memberikan hp kepada anak itu, dia mengangguk cepat dan mengambil hpku untuk menelpon.

Dia mengetikkan nomor dan mulai menelpon, entah kenapa aku jadi nggak enak hati melihat gelagat anak itu tampak resah ketika meletakkan hp di telinganya, kuputuskan turun dari Sepeda motor dan tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari anak itu yang semakin jelas terlihat canggungnya.

Secara tiba-tiba dia lari dengan cepat serta merta membawa hp aku, spontan aku teriak “Maaaaaaaaaaaaaaaaaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggggg” sambil brusaha mengejarnya. Sepertinya suaraku melengking sekali pagi itu, membuat orang-orang yang di dalam warung-warung nasi keluar semua dan mengejar anak itu. Aku jauh tertinggal di belakang, tidak sanggup mengejar. Yang terlintas difikiran aku  ‘apa salah ku ya Allah?

Akhirnya anak itu berhasil di tangkap seorang warga yang jaraknya lebih 100 meter dari lokasi kejadian, melihat orang yang semakin ramai mendekati anak itu membuatku bergerak cepat mendekatinya, takut nanti dia dihakimi massa. Belum sampai aku ke sana ku lihat seorang bapak langsung menghantam wajahnya dengan keras dan membuat anak itu terjatuh, aku dengan cepat menyela kerumunan dan menghalangi anak itu dari orang-orang yang siap menghakiminya.
“Pak, udah pak, jangan pukul dia” Aku mencoba berteriak karena suara-suara orang ramai seperti menenggelamkan suaraku yang masih bergetar.

Mereka banyak yang mengutuk perbuatan anak ini, banyak yang ingin memukulnya bahkan ada yang mau menelpon polisi tapi aku mencegahnya. Entah kenapa melihat lebam di pipi anak itu aku menjadi iba. Berkali-kali dia meminta maaf dan berlindung di belakang badanku demi menghindari massa yang semakin emosi.

“Udah Pak, Bu..makasih udah bantu menangkapnya, Iya. Ini hp aku udah balik dan masih bagus tak ada yang lecet. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini dengan dia” Aku meminta pengertian warga. Perlahan kerumunan itu berkurang, membiarkan aku menyelesaikannya sendiri. Merasa tak puas seorang bapak meninju pipi anak itu sekali lagi sebelum berlalu yang membuat aku teriak tertahan, semakin merasa kasihan.

Hanya tinggal kami berdua di depan toko yang masih tutup itu, ada dua orang ibu yang mengawasi kami dari warung sebelah, takut mungkin jika terjadi apa-apa sama diriku. Aku meminta tasnya, dia memberikan dan tetap tertunduk. Isi tasnya hanya satu buku tulis, lain tak ada.

Banyak sekali pertanyaan yang ingin kulontarkan sama dia, ingin memaki rasanya, ingin menasehati, ingin…ingin..ingin banyak sekali yang ingin kuucapkan untuk anak yang berani-beraninya mencuri dan mengatasnamakan pasanter lagi. Namun hanya singkat yang keluar dari mulut ini.

“Kenapa dek?” tanyaku lemah sambil menatapnya yang masih menunduk dari tadi.
“Maaf kak..maaf..maaf…maaf” hanyan itu yang keluar dari mulutnya. Perasaanku bercampur aduk, marah, kesal, sedih, iba, semua menjadi satu yang aku tak mengerti kenapa aku tak langsung menyeretnya ke kantor polisi. Dia mengucapkan maaf berkali-kali, tak henti sementara aku masih memikirkan cara penyelesaiannya.

“udah dik, bawa aja kantor polisi biar jera” ibu yang mengawasiku memberi saran.

Aku tak tega, entah aku bodoh atau apa namanya tapi yang jelas aku tak tega menyeretnya ke kantor polisi atau membawanya ke gecik kampong itu, melihat wajahnya yang lebam saja aku udah kasihan.

“Kakak kira kamu tadi sama kayak adik kakak yang dipasantren, perlu hp untuk dijemput sama mamak di rumah. Tapi nyatanya nggak! Adek kakak terlalu baik untuk disamain dengan kamu yang berani mencuri trus mengatas namakan pasantren lagi. Jangan malu-maluin keluarga ya dek, sayang bapak mamak di rumah kalau tau muka kamu sakit karna itu” Aku menepuk pundaknya dan berbalik, meninggalkan dia yang masih menunduk dan melewati 2 ibu-ibu yang terheran melihat sikapku.

Tak ada hukuman yang aku lontarkan.

Entahlah.. aku juga bingung. Namun memang tak ada benci lagi melihat anak itu, tak ada amarah dan dendam, yang tersisa hanya kasihan, sayang melihat anak yang masih kecil, yang seharusnya di dalam kelas menunggu guru dan belajar malah berani mencuri di pagi hari.

Ketika aku mau menjalankan Sepeda motor, anak itu ternyata menghampiriku dan membuatku kaget, ternyata tadi dia berlari mengejarku.

“maaf kak..maaf.. makasih kak…” tiba-tiba anak itu menyalamiku dengan airmata di wajahnya. Aku tak paham itu nyata atau hanya sandiwaranya. Aku hanya tersenyum getir dan segera berlalu.

*Takengon, 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar