Kejadiannya memang sudah lama, tapi masih
ingin berbagi dengan sesama...bukan membuka aib sesuatu..tapi hanya ingin memberi tahu..
Pagi
itu ketika pergi ke sekolah, seperti biasa aku akan berhenti di persimpangan
lampu merah SP.IV untuk menunggu teman agar
pergi ke sekolahnya bersamaan. Walaupun bukan halte tapi toko2 yang berjejer di
sepanjang jalan ini sudah menjadi tempat orang sekolahan ,kantoran dan
masyarakat umum untuk menunggu mobil angkutan, tak terkecuali hari itu. Ada ibu2
kantoran,guru,
anak sekolahan dan ibu-ibu dari dinas kebersihan jalan raya yang terlihat sedang
beristirahat setelah melakukan tugas mulia di pagi hari.
Udah
lebih 15 menit aku menunggu tapi temanku belum sampai juga, kuputuskan untuk menelponnya. “lagi di
jalan” jawabnya cepat dan langsung memutuskan percakapan kami. Ketika aku baru
meletakkan hp dikantong datang seorang anak lelaki menghampiriku, masih
teringat jelas sosoknya, pakai celana kain hitam, jaket
gelap dan tas ransel, kira-kira umurnya 14 tahunan,
anak tingkat SMP.
“Ka..bisa pnjam hp?” katanya ragu
“tuk apa?” aku menanyakannya
penuh selidik.
“mau sms orang di rumah kak, suruh jemput, saya baru pulang dari pasantren” dia menjelaskan.
“pasantren mana?” tanyaku
dan dia menyebutkan nama pasantren yang cukup terkenal di kabupaten sebelah.
Aku
berfikir sejenak, jadi teringat
adik bungsuku yang sama nasibnya seperti ini. Ketika
jadwal liburan, adikku di terminal bus selalu menggunakan nomor asing untuk
menelpon. Awalnya curiga juga tapi jadi
terfikir “kasian kalau nanti adik bungsuku yang kejadiannya kayak gini tapi
tak ada yang menolong”
“gak usah sms, telpon aja biar cepat” aku memutuskan memberikan hp kepada anak itu, dia mengangguk cepat dan
mengambil hpku untuk menelpon.
Dia
mengetikkan nomor dan mulai menelpon, entah kenapa aku jadi nggak enak hati melihat
gelagat anak itu tampak resah ketika meletakkan hp di telinganya, kuputuskan
turun dari Sepeda motor dan tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari anak itu
yang semakin jelas terlihat canggungnya.
Secara
tiba-tiba dia lari dengan cepat serta merta membawa hp aku, spontan aku teriak “Maaaaaaaaaaaaaaaaaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggggg”
sambil brusaha mengejarnya. Sepertinya suaraku melengking sekali pagi itu, membuat orang-orang yang
di dalam warung-warung nasi keluar semua dan mengejar anak itu. Aku jauh tertinggal di belakang, tidak sanggup
mengejar. Yang terlintas difikiran aku ‘apa salah ku ya Allah?’
Akhirnya anak itu berhasil di tangkap seorang
warga yang jaraknya lebih 100 meter dari lokasi kejadian, melihat orang yang
semakin ramai mendekati anak itu membuatku bergerak cepat mendekatinya, takut
nanti dia dihakimi massa. Belum sampai aku ke sana ku lihat seorang bapak
langsung menghantam wajahnya dengan keras dan membuat anak itu terjatuh, aku
dengan cepat menyela kerumunan dan menghalangi anak itu dari orang-orang yang
siap menghakiminya.
“Pak, udah pak, jangan pukul dia” Aku mencoba berteriak karena suara-suara orang ramai seperti
menenggelamkan suaraku yang masih bergetar.
Mereka banyak yang mengutuk perbuatan anak ini,
banyak yang ingin memukulnya bahkan ada yang mau menelpon polisi tapi aku
mencegahnya. Entah kenapa melihat lebam di pipi anak itu aku menjadi iba.
Berkali-kali dia meminta maaf dan berlindung di belakang badanku demi
menghindari massa yang semakin emosi.
“Udah Pak, Bu..makasih udah bantu menangkapnya, Iya. Ini hp aku udah
balik dan masih bagus tak ada yang lecet. Biar aku yang menyelesaikan masalah
ini dengan dia” Aku meminta
pengertian warga. Perlahan kerumunan itu berkurang, membiarkan aku
menyelesaikannya sendiri. Merasa tak puas seorang bapak meninju pipi anak itu
sekali lagi sebelum berlalu yang membuat aku teriak tertahan, semakin merasa
kasihan.
Hanya tinggal kami berdua di depan toko yang
masih tutup itu, ada dua orang ibu yang mengawasi kami dari warung sebelah,
takut mungkin jika terjadi apa-apa sama diriku. Aku meminta tasnya, dia
memberikan dan tetap tertunduk. Isi tasnya hanya satu buku tulis, lain tak ada.
Banyak sekali pertanyaan yang ingin kulontarkan
sama dia, ingin memaki rasanya, ingin menasehati, ingin…ingin..ingin banyak
sekali yang ingin kuucapkan untuk anak yang berani-beraninya mencuri dan
mengatasnamakan pasanter lagi. Namun hanya singkat yang keluar dari mulut ini.
“Kenapa dek?” tanyaku
lemah sambil menatapnya yang masih menunduk dari tadi.
“Maaf kak..maaf..maaf…maaf” hanyan itu yang keluar dari mulutnya.
Perasaanku bercampur aduk, marah, kesal, sedih, iba, semua menjadi satu yang
aku tak mengerti kenapa aku tak langsung menyeretnya ke kantor polisi. Dia
mengucapkan maaf berkali-kali, tak henti sementara aku masih memikirkan cara
penyelesaiannya.
“udah dik, bawa aja kantor polisi biar jera” ibu yang mengawasiku memberi
saran.
Aku tak tega, entah aku bodoh atau apa namanya
tapi yang jelas aku tak tega menyeretnya ke kantor polisi atau membawanya ke
gecik kampong itu, melihat wajahnya yang lebam saja aku udah kasihan.
“Kakak kira kamu tadi sama kayak adik kakak yang dipasantren, perlu hp
untuk dijemput sama mamak di rumah. Tapi nyatanya nggak! Adek kakak terlalu baik
untuk disamain dengan kamu yang berani mencuri trus mengatas namakan pasantren
lagi. Jangan malu-maluin keluarga ya dek, sayang bapak mamak di rumah kalau tau
muka kamu sakit karna itu” Aku
menepuk pundaknya dan berbalik, meninggalkan dia yang masih menunduk dan
melewati 2 ibu-ibu yang terheran melihat sikapku.
Tak ada hukuman yang aku lontarkan.
Entahlah.. aku juga bingung. Namun memang tak
ada benci lagi melihat anak itu, tak ada amarah dan dendam, yang tersisa hanya
kasihan, sayang melihat anak yang masih kecil, yang seharusnya di dalam kelas
menunggu guru dan belajar malah berani mencuri di pagi hari.
Ketika aku mau menjalankan Sepeda motor, anak
itu ternyata menghampiriku dan membuatku kaget, ternyata tadi dia berlari
mengejarku.
“maaf kak..maaf.. makasih kak…” tiba-tiba anak itu menyalamiku dengan airmata di wajahnya. Aku tak
paham itu nyata atau hanya sandiwaranya. Aku hanya tersenyum getir dan segera
berlalu.
*Takengon, 2013